Pembelajaran Abad 21 dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran SMK
Pembelajaran Abad 21
Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional mengamanatkan bahwa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) merupakan lembaga pendidikan yang bertujuan mencetak lulusan yang memiliki keterampilan untuk menangani suatu pekerjaan tertentu. Berdasarkan program prioritas dari Direktorat Pembinaan SMK yang mencanangkan tema pembangunan pendidikan jangka panjang 2005-2024, pembangunan SMK diarahkan pada peningkatan daya saing internasional sebagai pondasi dalam membangun kemandirian dan daya saing bangsa dalam menghadapai persaingan global. Dalam konteks membekali lulusan SMK agar siap masuk dalam bursa kerja, beberapa indikator kompetensi dalam pembelajaran abad 21 yang perlu dimunculkan antara lain: 1) literasi era digital (digital age literacy), 2) komunikasi efektif (effective communication), 3) berpikir inventif (inventive thinking), dan 4) produktifitas tinggi (high productivity) (Afandi dan Sajidan, 2017: 29-32).
Baca Juga : Permendikbud No.34 Tahun 2018 Tentang SNP SMK/MAK
Baca Juga : Permendikbud No.34 Tahun 2018 Tentang SNP SMK/MAK
Paradigma Pembelajaran Abad 21
Ciri abad 21 menurut Kemendikbud adalah tersedianya informasi dimana saja dan kapan saja (informasi), adanya implementasi penggunaan mesin (komputasi), mampu menjangkau segala pekerjaan rutin (otomatisasi) dan bisa dilakukan dari mana saja dan kemana saja (komunikasi).Delors Report (1996) dari International Commission on Education for the Twenty-first Century, mengajukan empat visi pembelajaran yaitu pengetahuan, pemahaman, kompetensi untuk hidup, dan kompetensi untuk bertindak. Selain visi tersebut juga dirumuskan empat prinsip yang dikenal sebagai empat pilar pendidikan yaitu learning to know, lerning to do, learning to be dan learning to live together.
Kecakapan Abad 21
Ketrampilan Berpikir Kritis (Critical Thinking Skills)
Berpikir kritis merupakan salah satu keterampilan berpikir tingkat tinggi atau Higher Order thinking Skills/HOTS selain berpikir kreatif (creativethinking), pemecahan masalah (creative thinking),pemecahan masalah (problem solving), dan berpikir reflektif (reflective thinking). John Dewey dalam Fisher (2009) menyebutkan “berpikir kritis” ini sebagai “berpikir reflektif” dan mendefinisikannya sebagai pertimbangan yang aktif, terus-menerus, dan teliti mengenai sebuah keyakinan atau bentuk pengetahuan yang diterima begitu saja dipandang dari sudut alasan-alasan yang mendukungnya dan kesimpulan-kesimpulan lanjutan yang menjadi kecenderungannya
Ketrampilan Komunikasi
Kemajuan teknologi berdampak cukup besar bagi pola komunikasi saat ini. Kemajuan teknologi di bidang komunikasi memiliki sisi positif dan sisi negatif. Sisi positifnya,masyarakat lebih efisien untuk mengirim pesan,lebih mudah menemukan sumber informasi terkini, dan lebih praktis untuk membentuk suatu komunitas (Ferguson, 2015 hlm. 1). Keterampilan komunikasi adalah keterampilan individu untuk menyampaikan dan menerima pesan sesuai dengan konteks. Komunikasi membantu siswa untuk mengartikulasi gagasan dan pikiran baik secara lisan, tertulis, atau nonverbal dalam berbagai konteks dengan tujuan pendengar dapat menerima pesan dengan tepat dan efektif (East, 2015).
Baca Juga : Teori Belajar
Collaboration/kolaboratif
Merupakan keterampilan bekerjasama dalam kelompok. Bertanggung jawab atas tugas yang diperoleh dari kelompok, Menghargai ide/gagasan yang disampaikan oleh orang lain baik secara lisan, tertulis, maupun menggunakan media digital. Biemiller (1993) menyatakan bahwa pengaturan pembelajaran yang mendorong para pebelajar memberikan bantuan kepada yang lain dan pihak lain menerimanya memungkinkan untuk meningkatkan adanya saling ketergantungan.
Creative thinking skill (kreativitas)
Kreativitas merupakan aktivitas menemukan ide/gagasan kreatif untuk menghasilkan suatu produk, mengembangkan ide/gagasan kreatif untuk menghasilkan suatu produk, merancang ide/gagasan secara kreatif untuk menghasilkan suatu produk, memproduksi dan mengimplementasikan produk yang telah diproduksi secara luas dan mengevaluasi hasil kegiatan implementasi yang telah dilaksanakan untuk disempurnakan (Afandi dan Sajidan, 2017).
Karakteristik Pembelajaran SMK
Karakteristik Pendidikan Kejuruan (Djojonegoro, 1998) adalah sebagai berikut: 1) pendidikan kejuruan diarahkan untuk mempersiapkan peserta didik memasuki lapangan kerja, 2) pendidikan kejuruan didasarkan atas “demand-driven”(kebutuhan dunia kerja), 3) fokus isi pendidikan kejuruan ditekankan pada penguasaan pengetahuan, keterampilan,sikap dan nilai-nilai yang dibutuhkan oleh dunia kerja, 4) penilaian yang sesungguhnya terhadap kesuksesan siswa harus pada “hands-on” atau performa dalam dunia kerja, 5) hubungan yang erat dengan dunia kerja merupakan kunci sukses pendidikan kejuruan, 6) pendidikan kejuruan yang baik adalah responsif dan antisipatif terhadap kemajuan teknologi, 7) pendidikan kejuruan lebih ditekankan pada “learning by doing” dan “hands-on experience”, 8) pendidikan kejuruan memerlukan fasilitas yang mutakhir untuk praktik , 9) pendidikan kejuruan memerlukan biaya investasi dan operasional yang lebih besar daripada pendidikan umum.
Baca Juga : Teori Belajar
Strategi Optimalisasi Pembelajaran Abad 21 di SMK
Pembelajaran abad 21 secara sederhana diartikan sebagai pembelajaran yang memberikan kecakapan abad 21 kepada peserta didik, yaitu 4C yang meliputi: (1) Communication (2) Collaboration, (3) Critical Thinking and problem solving, dan (4) Creative and Innovative. Strategi pencapaianya kecakapan abad 21 terintegrasi dalam 8 standar nasional pendidikan antaralain:
Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi
Optimalisasi pembelajaran abad 21 pada standar kompetensi lulusan dengan menstandarkan ketrampilan, kepemimpinan, kewirausahaan, bahasa asing, mitra DU-DI, demikian juga kearifan lokal di sesuaikan karakteristik kompetensi abad 21. Standar Isi Pendidikan Dasar Menengah, tingkat kompetensi pada ranah keterampilan untuk siswa SMK perlu diarahkan sampai tataran kinerja siswa yang menunjukkan keterampilan menalar, mengolah, dan menyaji secara: a) efektif; b) kreatif; c) produktif; d) kritis; e) mandiri; f) kolaboratif; g) komunikatif; dan h) solutif.
Guru abad 21 dituntut tidak hanya mampu mengajar dan mengelola kegiatan kelas dengan efektif, namun juga dituntut untuk mampu membangun hubungan yang efektif
Baca Juga : Struktur Kurikulum
Standar Proses dan Standar Penilaian
Strategi optimalisasi pada standar proses dikategorikan pada 3 bagian: a) rencana pembelajaran, b) pelaksanaan pembelajaran, dan c) evaluasi pembelajaran. Optimalkan Strategi dilakukan dengan mengefektifkan pelaksanaan supervisi akademik dan muatan pembelajaran abad 21. Pembelajaran yang sesuai dengan tuntutan kecakapan Abad 21 direncanakan dari awal dimulai dengan menganalisis Kompetensi sampai menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran atau RPP. Karakter kecakapan Abad 21 dapat dikembangkan sesuai dengan karakteristik KD dan materi yang akan dibahas. strategi perbaikan dalam aspek penilaian ini adalah dari sisi tindak lanjut hasil penilaian. Hasil penilaian otentik perlu dioptimalkan pemanfaatannya oleh guru untuk merencanakan program perbaikan (remedial) pembelajaran, pengayaan (enrichment), atau pelayanan konseling.Standar Pendidik dan Tenaga Kependidikan
Guru abad 21 dituntut tidak hanya mampu mengajar dan mengelola kegiatan kelas dengan efektif, namun juga dituntut untuk mampu membangun hubungan yang efektif
dengan siswa dan komunitas sekolah, menggunakan teknologi untuk mendukung peningkatan mutu pengajaran, serta melakukan refleksi dan perbaikan praktek pembelajarannya secara terus menerus. Guru profesional abad 21 adalah guru yang terampil dalam pengajaran, mampu membangun dan mengembangkan hubungan antara guru dan sekolah dengan komunitas yang luas, dan seorang pembelajar sekaligus agen perubahan di sekolah.
Standar Sarana dan Prasarana
SMK dirancang sebagai sekolah yang bisa menjembatani lulusannya dengan kebutuhan pekerjaan di dunia industri. SMK mempunyai tujuan yang terfokus pada: persiapan untuk masuk kerja, pemilihan karir, dan mengembangkan kompetensi tertentu sesuai bidang keahliannya. sehingga sarana dan prasaran harus menunjang pada proses pembelajaran abad 21. Bengkel/laboratorium di SMK merupakan sarana belajar untuk mensimulasikan pekerjaan sebagaimana kegiatan yang dilakukan oleh karyawan di industri. Strategi pemenuhan sarana laboratorium/bengkel termasuk juga optimalisasi pemanfaatannya oleh guru dalam pembelajaran menjadi solusi alternatif untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.
Standar Pengelolaan dan Standar pembiayaan
Standar pengelolaan berkaitan dengan perencanaan, pelaksanaan, dan pengawasan kegiatan pendidikan pada tingkat satuan pendidikan. Standar pengelolaan sekolah mempunyai standar mutu sekolah yang baik dalam proses pembelajaran, kualifikasi tenaga PTK, kompetensi lulusan, serta sarana prasarana. Kelemahan dalam pelaksanaan manajemen mutu yakni sebagian besar belum mengupdate standar mutu tersebut yang disesuaikan dengan perkembangan ilmu, teknologi, dan pasar kerja di era revolusi industri 4.0.
Model Pembelajaran SMK dengan Kecakapan Abad 21
Pembelajaran SMK diharapkan mengintegrasikan 4Cc (Communication. Collaboration, Critical thinking skill, dan creative thinking skill) dalam rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP), proses dan penilaian/evaluasi. Penjelasan 4Cs adalah sebagai berikut:
- Communication (Com).menyajikan/ mempresentasikan/ mengomunikasikansuatu ide gagasan atau hasil pengamatan/ observasi/ekperiment/ eksplorasi secara lancar dan benar, baik secara lisan dan tertulis. Menyampaikan ide/gagasan/informasi secara jelas dan lancar baik secara lisan, tertulis, maupun menggunakan media digital Mendengarkan ide/gagasan/informasi yang disampaikan oleh orang lain baik secara lisan, tertulis, maupun menggunakan media digital.
- Collaboration (Col): Teaming /bekerjasama secara efektif dan efisien dalam kelompok. Menghargai ide/gagasan/informasi yang disampaikan oleh orang lain baik secara lisan, tertulis, maupun menggunakan media digital. Bertanggung jawab atas tugas yang diperoleh dari kelompok.
- Critical thinking skill: Mengidentifikasi bukti, argumentasi, klaim dan data-data dari informasi yang diperoleh. Mencari informasi mengenaibukti, argumentasi, klaim dan data-data relevan yang mendukung dari kebenaran informasi. Menganalisis bukti, argumentasi, klaim dan data-data pembanding. Membandingkan bukti, argumentasi, klaim dan data-data pembanding dengan, argumentasi, klaim dan data-data dari informasi yang diperoleh.Mempertimbangkan bukti, argumentasi, klaim dan data datayang dapat dipercaya. Menyimpulkan informasi berdasarkan hasil pertimbangan. Menyusunargumentasi lanjutan berdasarkan hasil kesimpulan.
- Creative thinking skill: Menemukan ide/gagasan kreatif untuk menghasilkan suatu produk. Mengembangkan ide/gagasan kreatif untuk menghasilkan suatu produk. Merancang ide/gagasan secara kreatif untuk menghasilkan suatu produk. Memproduksi hasil desain rancangan produk.Mengimplementasikan produk yang telah diproduksi secara luas. Mengevaluasi hasil kegiatan implementasi yang telah dilaksanakan untuk disempurnakan. Mengkonstruksi langkah-langkah pemecahan masalah. Menelaah informasi yang dibutuhkan untuk memecahkan masalah. Menyajikan solusi pemecahan masalah. Mengevaluasi solusi dari masalah yang disajikan.
Baca Juga : Struktur Kurikulum
Sumber : Peningkatan Proses Pembelajaran Dan Penilaian Pembelajaran Abad 21 Dalam
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran SMK : DITPSMK
Meningkatkan Kualitas Pembelajaran SMK : DITPSMK



Post a Comment for "Pembelajaran Abad 21 dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran SMK"