Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Teaching Factory Strategi Meningkatkan Kompetensi dan Skill

 

Teaching Factory  Strategi Meningkatkan Kompetensi dan Skill -

http://www.pakdahlanmant.com Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulian, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta tanggungjawab (UU 20/2003 Sisdiknas Pasal 3). 

Sekolah menengah kejuruan merupakan satuan pendidikan kejuruan pada jenjang pendidikan menengah yang bertujuan mempersiapkan peserta didiknya untuk dapat bekerja, baik secara mandiri atau mengisi lowongan pekerjaan yang ada sebagai tenaga kerja tingkah menengah sesuai dengan kompetensi yang dimilikinya (UU 20/2003 Sisdiknas. Pendidikan kejuruan memiliki tujuan mencetak SDM lulusan SMK yang berkompeten yang siap terjun kedunia industri serta memiliki kemampuan untuk menciptakan lapangan kerja sendiri. 

Namun, menurut Badan Pusat Statistik (BPS) Agustus 2016 angka pengangguran SMK 11,11% dari total pengangguran terbuka sebesar 7,02 juta. Selain itu masih terjadi miss match antara yang dipelajari di sekolah dengan dunia usaha dan industri. Artinya, antara materi pembelajaran di SMK belum sesuai dengan kebutuhan dunia kerja.

Direktorat Jenderal Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah, mengemukakan bahwa Strategi Meningkatkan Kompetensi dan Skill dapat dilakukan dengan cara: (a) memperkuat kemampuan adaptif yang meliputi kemampuan matematika terapan dan sains terapan, (b) memperkuat kemampuan berwirausaha, (c) memperkuat kemampuan menggunakan berbahasa nasional dan internasional, (d) memperkuat kemampuan dasar TIK, (e) melaksanakan teaching factory (Direktorat PSMK, 2010).

Pengertian Teaching Factory Meningkatkan Kompetensi dan Skill

Teaching Factory atau dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2015 tentang Pengembangan Sumber Daya Industri dijelaskan sebagai berikut: “pabrik dalam sekolah (teaching factory) adalah sarana produksi yang dioperasikan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk sesuai dengan kondisi nyata di Dunia Usaha/Dunia Industri (DUDI) dan tidak berorientasi mencari keuntungan”.

Pembelajaran teaching factory adalah suatu konsep pembelajaran di SMK berbasis produksi/jasa yang mengacu kepada standar dan prosedur yang berlaku di industri, dan dilaksanakan dalam suasana seperti yang terjadi di industri (Ditpsmk). 

Konsep teaching factory merupakan menggabungkan belajar dan lingkungan kerja yang realistis dan memunculkan pengalaman belajar yang relevan. Dalam konsep sederhana teaching factory merupakan pengembangan dari pendidikan sistem ganda, yaitu Competence Based Training (CBT), dan Production Based Education and Training (PBET) yang dilaksanakan oleh SMK.

Meningkatkan Kompetensi dan Skill Bagian dari Tujuan Teaching Factory

Membekali lulusan SMK dengan kompetensi teknis yang utuh dan riil serta karakter kinerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja, berjiwa wirausaha serta memiliki kesiapan untuk memasuki dunia kerja dan atau mengembangkan usaha secara mandiri, sehingga terjadi peningkatan kebekerjaan lulusan SMK Secara rinci tujuan Teaching Factory adalah sebagai berikut. Membekali lulusan SMK agar siap kerja dan menjadi pelaku wirausaha;

  1. Menumbuhkembangkan kreativitas siswa dalam menghasilkan produk dan atau layanan jasa sesuai dengan kompetensinya;
  2. Membekalkan keterampilan sesuai yang dibutuhkan dalam dunia kerja;
  3. Memperluas cakupan peluang kerja bagi lulusan SMK;
  4. Memfasilitasi siswa memulai usaha (star up) secara mandiri dan atau berkelompok sesuai dengan kompetensi keahliannya;
  5. Menanamkan etos dan budaya kerja DUDI.

 

Model Pengembangan Teaching Factory Untuk Meningkatkan Kompetensi dan Skill

Menurut Zainal Nur Arifin (2014) ada tiga model teaching factory yang di kenal di sistem pendidikan Indonesia.
Model 1 : SMK atau lembaga kejuruan menyediakan ruang untuk mitra industri untuk membangun teaching factory dalam institusi lokal
Model 2 : SMK atau lembaga kejuruan membangun sebuah teaching factory bersama dengan mitra industri.
Model 3 : Teaching Factory mengambil bentuk kelas kerjasama khusus antara mitra industri dan sebuah SMK atau lembaga pendidikan kejuruan.

Langkah - langkah Model Pembelajaran Teaching Factory

Model pembelajaran teaching factory di bagi dalam dua tahapan. Tahap pertama adalah pendahuluan. Tahap pendahuluan meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1.   Menerima Pemberian Order
Guru : Mengecek kehadiran, mengarahkan dan membagi siswa menjadi 2-3 kelompok, mengecek  ruangan dan kelengkapan, Mengatur siswa untuk menerima pemberian order. Berperan sebagai asesor memberi konsultasi dan menilai siswa sebagai pekerjaan dalam menerima pemberian order.
Siswa : melakukan finger scan, mengikuti arahan konsultan, mempersiapkan diri, raungan dan kelengkapannya untuk menerima pemberian order. Berperan sebagai pekerja menerima pemberian order dengan komunikasi yang baik, memperhatikan intonasi, mimik muka dan body language.
2.   Menganalisis Order
Guru : Berperan sebagai konsultan dan asesor memberi konsultasi dan menilai hasil analisis oreder oleh siswa memberitahu siswa tentang harga.
Siswa : Melakukan analisis order, membaca gambar, menetukan bahan, mesin, alat potong, putaran mesin, waktu kerja, harga dan keselamatan kerja, berkonsultasi.
3.   Menyatakan Kesiapan Mengerjakan Order
Guru : Berperan sebagai asesor mengamati, menilai siswa dalam menyatakan kesanggupan.
Siswa : dengan bekal hasil analisis order, penuh keyakinan siswa menyatakan kesiapan mengerjakan oreder dengan tutur  kata yang baik.

Tahap Inti meliputi langkah-langkah sebagai berikut:
1.   Menerima Pemberian Order
Guru :  berperan sebagai asesor dan konsultan memandu serta menilai siswa dalam melaksanakan kerja dengan memperhatikan SOP dan keselamatan kerja.
Siswa : Mengerjakan order dengan menerapkan keselamatan kerja, persiapan kerja, langkah kerja dan menghitung waktu kerja sesuai dengna SOP.
2.   Menganalisis Order
Guru : berperan sebagai asesor dan konsulstan memberi konsultasi da menilai hasil kerja siswa dan hasil yang dilakukan dalam Quality kontrol.
Siswa : melakukan Quality kontral mencocokkan ukuran tingkat presisi dan fungsi benda kerja sesuai gambar kerja.
3.   Menyatakan Kesiapan Mengerjakan Order
Guru : bertutur kata yang baik menyerahkan benda kerja, mendemostrasikan fungsi benda kerja dan meminta tanggapan tentang hasil kerja, membina komunikasi yang baik dengan pemberi order.
4.   Tahapan Penutup
Guru : sebagi konsulstan dan asesor dan penanggungjawab seluruh program pembelajaran, mengamati, mengevaluasi hasil, proses dan program pembelajarna.
Siswa : diamati dan dievaluasi oelh asesor selama proses. Melakukan post test kognitif, mengisi kuisioner tentang model program.

Komponen Teaching Factory Sebagai Strategi Meningkatkan Kompetensi dan Skill

Komponen minimal dalam menjalankan teaching factory sebagai berikut: Standar Kompetensi, Instruktur / Pengajar, Peserta didik, Media Pembelajaran, Perlengkapan dan peralatan, Penilaian prestasi belajar, Pengakuan kompetensi, dan Unit produksi jurusan

Dari beberapa tahapan implementasi teaching factory dapat mendorong meningkatkan kompensi dan skill. Melalui kegiatan pembelajaran teaching factory diharapkan muncul nilai-nilai entrepreneurship yang tertanam dalam jiwa siswa, seperti jujur, kreatif, inovatif dan lainya. Jiwa entrepreneur tersebut dapat terlihat dari kegiatan yang dilakukan siswa pada saat memasarkan produk yang dihasilkan baik itu barang maupun jasa, siswa mampu menunjukan barang secara detail kepada konsumen, siswa mampu mengkreasi dan memperbaiki produk, bahkan mampu mendesain sebuah produk menjadi lebih baik.
Pak Dahlan
Pak Dahlan Admin Sumber Belajar adalah Dachlan Moersid. Misi Sumber Belajar adalah Belajar sepanjang waktu dan berbagi setiap saat. Fokus pada bidang Matematika, Komputer dan pendidikan. Mencoba berbagi dari pengalaman mengajar matematika di sekolah dan di bimbingan belajar Primagama. Dalam dunia pendidikan pernah berkesempatan untuk menjadi instruktur nasional kurikulum 2013, pendamping teaching factory dan smart school serta menjadi narasumber berbagai workshop tentang dunia pendidikan. Saat ini mencoba untuk belajar dan berbagi.

1 comment for "Teaching Factory Strategi Meningkatkan Kompetensi dan Skill"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Hosting Unlimited Indonesia

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel

Template Blogger Terbaik Rekomendasi